Mahasiswa Kurang Miliki Daya Juang dan Cenderung Pragmatis


Yogyakarta, CyberNews. Dalam pandangan dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Drs Suroso MS, terdapat beberapa hal memprihatinkan dalam diri mahasiswa, yaitu sikapnya yang belum mengerti tanggungjawab, kurang mampu berkomunikasi, kurang inisiatif, kurang memiliki rasa humor dan kurang dapat bekerja sama dalam tim.

“Mereka juga kurang memiliki daya juang tinggi dan cenderung pragmatis. Nampak-nampaknya peran perguruan tinggi (PT) belum maksimal dalam memberikan bekal pada mahasiswa,” ujarnya, saat ujian terbuka program doktor bidang Ilmu Psikologi UGM.

Dikatakan, kondisi mahasiswa yang memprihatinkan itu sejalan hasil diskusi rapat nasional bidang kemahasiswaan tahun 2005 dan pernyataan para pimpinan PT bidang kemahasiswaan pada tanggal 20 Mei 2010 lalu. Mereka sepakat berkesimpulan bahwa kegiatan kemahasiswaan masih belum memberikan akses optimal dalam memberikan bekal kepada mahasiswa, baik dalam bentuk pengembangan sikap, wawasan maupun perubahan perilaku.

“Indikasi ini bisa dilihat dari besarnya jumlah lulusan PT yang setiap tahunnya masih membebani pemerintah, karena tidak terserap pasar kerja maupun ketidakmampuan mereka menciptakan pekerjaan,” katanya di auditorium Fakultas Psikologi UGM saat mempertahankan desertasi ”Peranan Pengasuhan Orang Tua, Pembinaan Kemahasiswaan, dan Aktivitas yang Dilakukan terhadap Performansi Ideal Mahasiswa”.

Pola Pengasuhan

Menurut hasil penelitiannya, menunjukkan bahwa pada semua kelompok subyek, mahasiswa berprestasi, tokoh, mahasiswa aktivis, maupun mahasiswa non-aktivis ditemukan pola pengasuhan orang tua, pembinaan kemahasiswaan dan aktivitas-aktivitas lain bila dilakukan secara bersama-sama memberikan peran terhadap performansi ideal.

Performansi terhadap mahasiswa berprestasi dinilai paling ideal di antara kelompok yang lain. Dengan demikian rumusan tentang performansi ideal dalam penelitian itu dapat dipertimbangkan menjadi acuan dalam melakukan pembinaan kemahasiswaan, dalam menetapkan target mahasiswa sebagai output dan outcome pembinaan kemahasiswaan agar lulusan mampu menghadapi persaingan global.

Berbagai aktivitas mahasiswa, kata Suroso, lebih banyak berdasar atas ide dan kreativitas mereka sendiri. Meski ada pembimbing kemahasiswaan, namun belum maksimal dalam melakukan pembimbingan/pendampingan. Jadi, kehadiran para pembimbing itu dianggap tidak penting, kalaupun ada dosen yang sanggup membimbing, justru dicap para mahasiswa seorang yang aneh atau gila.

“Akhirnya pembinaan pun diserahkan kepada organisasi kemahasiswaan, tanpa sistem panduan yang jelas, termasuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Apalagi jika diteliti dibanyak PT/PTS sedikit dosen yang mau menjadi pembimbing/pendamping kegiatan kemahasiswaan,” tambah pris kelahiran Karanganyar 24 April 1960 yang dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan dan menjadi doktor ke-1.355 yang diluluskan UGM. (P12)

sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s