Dari Ayah untuk Kamu Nak


Renungkan!!

To : Generasi Muda (Generus)

Nak, ayah sengaja bawa kamu ke
sini karena mau ngomong serius sama kamu. Sekarang kamu sudah baligh. Kamu relatif
sudah bisa membedakan yang benar dan yang enggak. Tapi kamu masih terlalu muda
buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.

Nak, apa kamu pernah menerka
kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV
yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi
keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu
karena ayah sayang kamu dan gak mau kamu jadi orang-orang bentukan media
mainstream yang gak islami.

Pada umumnya mereka itu bikin
kamu tahu dalam ketidaktahuan. Kamu jadi tahu cara bikin orang ketawa, cara
supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut
tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan
informasi-informasi gak penting, se-gak penting artis anu baru ngerayain ulang tahunnya
di Food Court Pondok Indah Mal.

Tapi nak, kamu gak diajarin kamu
harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau
nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarin bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa
besar. Kamu gak diajarin cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa
kriterianya.

Kamu jadi tahu batasan HAM tapi
tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun
kamu sendiri aja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran
terus, tapi kamu malah gak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran
setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali gak
dibikin ngerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” aja gak bisa, gimana mau
paham, anakku?

Kamu nanti malah jadi bingung, di
TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat gak ketulungan, apa kamu
mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 6 tahun itu bejat? Di TV diajarin
makan jilat tangan itu gak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat
tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang
kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan
bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah
lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.

Ayah paling takut kamu mengarah
ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits
karena gak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari
logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s
World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran
itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.

Kalau agama ini menuruti
kelogisanmu, gak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan
senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan
perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Gak akan ada cerita
pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala
penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh?
Nonsense! Itu semua gak akan masuk ke logikamu, nak.

Kamu akan wudhu dengan membasuh
duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita
gak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya.
Percaya bahwa aturan itu tepat walau gak masuk logika kamu.

Itu kenapa kamu harus mendalami
Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada
tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya
kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan.
Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau
ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.

Ayah cuma takut, kamu bisa
menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam
berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah
takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya
“semlekum”. Ayah gak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi
gak hapal siapa saja mahrom kamu.

Ayah gak mau kamu bisa bedain
processor bagus dan enggak, bisa bedain awan cumulus dan nimbus, bisa bedain membran
sel dan membran mitokondria, tapi kamu gak bisa bedain halal-haram dan
suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi gak ngerti
hukum islam, nak.

Ayah gak kebayang, pascatiada
nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding
tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal
segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi,
“Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini,
“Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan,
target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?

Al ‘ilmu qobla ‘amal, nak. Beramal
setelah kamu punya ilmunya, jangan sembarangan ikut-ikutan. Orang tahlilan kamu
ikut tahlilan. Orang pacaran kamu ikut pacaran. Aduuuh, nak. Jangan. Jangan
jadi orang yang “qila wa qola”, masih gak jelas dasarnya, eh malah disampaikan.
Jangan katanya katanya. Kamu harus tahu betul apa dalilnya, hukumnya gimana, baru
bisa melakukan atau menanggapi sesuatu. Kamu tahu kan, qila wa qola itu
termasuk satu dari tiga hal yang dibenci Allah? Coba buka lagi hadist Muslim
kamu.

Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat
akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu.
Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar
dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari
matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi
penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat
lebih dari itu, nak.

Setelah ilmumu kuat, aplikasikan,
sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut
cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu
dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser
sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah
tapi gak bisa aplikasikan agamamu.

Nak, dari dulu orang hebat itu
selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing,
nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa
nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.

Anak muda seperti kamu punya
tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua kayak ayah begini.
Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak,
karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15
tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat
hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.

Kamu tentu sering dengar Ali bin
Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr,
saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang
Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang
membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.

Imam Bukhori yang menyusun hadits
tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda
yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa
yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi
musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.

Selanjutnya giliran kamu yang
meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah doakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s